Pendahuluan
Perjalanan hidup nabi Isma’il ‘alaihissalam adalah
sebuah kisah monumental tentang kesiapsiagaan seorang pejuang Muslim menerima
perintah dengan tulus dan tanpa penolakan. Syari’at difahami bukan sekedar
sebuah koleksi keilmuan ataupun rekreasi berfikir semata, melainkan sebuah
aturan yang harus dijalankan.
Demikianlah menurut Sayyid Quthb bahwa dalam setiap periode sejarah manusia, seruan
kepada syari’at Allah memiliki satu sifat kesamaan yaitu deklarasi kemerdekaan untuk menghamba
secara totalitas hanya kepada Allah. Hal ini dengan lugas ia kemukakan,
“إسلام العباد
لرب العباد، وإخراجهم من عبادة العباد إلى عبادة الله وحده، بإخراجهم من سلطان
العباد في حاكميتهم وشرائعهم وقيمهم وتقاليدهم، إلى سلطان الله وحاكميته وشريعته
وحده في كل شأن من شؤون الحياة” [1]
“Ketundukan
seorang hamba kepada tuhannya, membebaskan diri dari penghambaan atas sesama
manusia menuju penghambaan kepada Allah semata. Mengeluarkan mereka dari
cengkraman ketuhanan dan hukum-hukum buatan manusia, mengeluarkan mereka dari
kungkungan sistem-sistem nilai dan tradisi-tradisi buatan manusia kepada
kekuasaan Allah, otoritas dan syari’at-Nya semata dalam segala ruang lingkup
kehidupan.”
Demikianlah komitmen keislaman, ia
tidak sekedar mengatur hubungan individu secara horizontal kepada sesama manusia dan seluruh makhluk.
Melainkan pula vertikal kepada Allah ta’ala, dalam pengertian bahwa hubungan-hubungan ini harus sesuai dengan kehendak Allah ta’ala.
Tulisan singkat ini berupaya mendapatkan
pelajaran-pelajaran dari kisah nabi Isma’il alaihissalam. Kesiapsiagaannya
dalam menerima perintah penyembelihan dirinya sendiri, adalah peristiwa yang
menarik untuk dipelajari. Tidakkah diantara maqashid syari’at itu melindungi jiwa
dan keturunan? Lalu apakah hikmah yang terdapat pada kisah-kisah tersebut?
Perintah
Menjaga Kesabaran dan Keteguhan Dalam Menjalankan Ketaatan
Pelajaran ini kita dapati pada kisah yang diabadikan dalam QS.
Ash-Shaffat ayat 102. Dalam ayat ini diceritakan bahwa suatu ketika Nabi
Ibrahim bermimpi, didalam mimpi tersebut ia melihat anak yang sangat ia cintai
(Ismail) disembelih. Lalu Nabi Ibrahim mengutarakan mimpi tersebut kepada
anaknya. Dengan penuh kerelaan anak tersebut menerima perintah ayahnya karena
ia yakin perintah tersebut datangnya dari Allah Swt.
Allah ta’ala
berfirman dalam surat ash Shaffat ayat 102,
فلما بلغ معه
السعي قال يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبت افعل ما تؤمر
ستجدني إن شاء الله من الصابرين.
Maka tatkala
anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
Dalam ayat
ini tersurat bahwa nabi Ibrahim ‘alaihissalam bermusyawarah dengan Isma’il
‘alaihissalam tentang perintah Allah. Seolah-olah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
ragu untuk melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anak kesayangannya.
Menurut
Wahbah az Zuhailiy, musyawarah itu bukanlah bentuk tawar-menawar perintah Allah,
melainkan Ibrahim ingin mengatahui kadar kesabaran Isma’il dalam menerima
perintah yang tiba-tiba datang. Hal ini
penting karena kesabaran merupakan ketinggian derajat yang mengantarkan seorang
da’i pada kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. [2]
Pendapat
semacam ini juga dikemukakan oleh al mawardi, bahwa Ibrahim ‘as menyampaikan perintah
itu sebagai berita untuk menguji kesabaran Isma’il atas perintah Allah ta’ala.
Dan Ibrahim ‘as mendapati anaknya adalah seorang pejuang muslim yang sabar
dalam menerima perintah Allah. al Mawardi mengemukakan, “فوجده في الامتحان صادق الطاعة سريع الإجابة
قوي الدين”[3]
maka ia mendapati hasil pada ujian itu adalah ketaatan yang benar,
kesiapsiagaan dalam menerima perintah serta kuatnya diin. Bahkan al Baghawi
mengemukakan bahwa Allah memerintahkan Ibrahim ‘as untuk bertanya kepada
Isma’il ‘as agar ia mengetahui kesabarannya dalam menjalankan perintah dan
keteguhannya dalam ketaatan.[4]
Senantiasa
Berbaik Sangka Kepada Allah
Peristiwa
ini juga memberikan pelajaran bahwa hendaknya seorang muslim senantiasa
menghiasi diri dengan akhlaq yang baik, diantaranya adalah senantiasa berbaik
sangka kepada Allah dalam menjalankan perintah-Nya ataupun ketika sedang
mendapati ujian dari Allah ta’ala.
Perintah
Allah untuk mengurbankan dirinya tidak menyebabkan Isma’il yang saat itu masih
berusia 13 tahun berburuk sangka kepada Allah. Ia menerima dan meyakinkan
ayahnya bahwa ia akan sabar menjalani ujian itu.
Urgensi
berbaik sangka dikemukakan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasanya
Rasulullah saw bersabda,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ
عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ
ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي،[5]
“Sesungguhnya
Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku,
Jika ia meningat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku…”
Berbaik
sangka kepada Allah juga penting dikarenakan setiap manusia pasti akan diuji,
sesuai kadar keimanannya. Sifat utama ini akan meringankan beban seseorang yang
sedang diuji. Rasulullah saw bersabda,
" إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلَاءً
الْأَنْبِيَاءَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ
الَّذِينَ يَلُونَهُمْ " [6]
“sesungguhnya
yang paling berat ujiannya adalah para
nabi, kemudian orang-orang yang mengikutinya, kemudian yang mengikutinya,
kemudian yang mengikutinya,”
Alasan lain setiap Muslim harus berbaik sangka kepada
Allah adalah karena Allah pasti memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan
bila seseorang itu bertaqwa kepada-Nya. sebagaimana firman Allah ta’ala
}فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ
يُسْرًا{، }وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجً{، }وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرً{.
Senantiasa
Mengaitkan Segala Urusan Kepada Allah
Sesungguhnya segala sesuatu itu terjadi maupun tidak
terjadi semuanya atas kehendak Allah, Inilah yang pelajaran yang diambil dari
jawaban nabi Isma’il ‘as, “ستجدني إن شاء الله من الصابرين” insya Allah
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.
Dalam ayat
lain Allah ta’ala berfirman,
ولا تقولن لشيء
إني فاعل ذلك غدا. إلا أن يشاء الله واذكر ربك إذا نسيت وقل عسى أن يهدين ربي لأقرب
من هذا رشدا
“Dan jangan sekali-kali kamu
mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok
pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya-Allah". Dan ingatlah kepada
Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan
memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini".”
Jika seorang
Muslim meyakini bahwa tidak ada hakikat yang lebih besar daripada Allah ta’ala,
maka ia akan merasakan ringan atas segala ujian yang dihadapinya, karena pada
hakikatnya ujian itu merupakan ciptaan Allah sebagaimana dirinya juga merupakan
ciptaan Allah.
Hasbunallah wa ni’mal wakil
Itsna A. Shuwaivia
[1] Sayyid Quthb, Ma’alim
fi athThariq, (Beirut: Daar asy Syuruq, tth), h. 46.
[2] Wahbah az Zuhailiy, At
Tafsir al Muniir fil Aqidati wa Syari’ati wal Manhaji,(Damaskus: Daar
al Fikr al Mu’ashir, 1418 H),vol 23, hlm 126.
[3] Abul Hasan Ali al
Mawardi, an Nukat wal ‘Uyun,(Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah,
tth.),vol 5, hlm 61.
[4] Abu Muhammad al Baghawi,
Ma’alimut Tanziil fi Tafsiril Qur’an, (Beirut: Daar Ihyau Turats
al ‘Arabiy, 1420 H),vol 4, hlm 37.
[5] Muhammad bin Isma’il al
Bukhari, Shahih al Bukhari, (Saudi Arabia: Daar Thuwaiq an Najah,
cet pertama, 1422 H), vol 9, hlm 121.
[6] Ahmad Ibnu Hanbal, Musnad
al Imam Ahmad bin Hanbal, (Beirut: Muassasatu ar Risalah, cet 1, 1421
H), vol 45, hlm 10. Menurut Syaikh Su’aib al Arnauth hadits ini shahih li
ghairihi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar